BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Sebagaimana
lazimnya suatu dialog intelektual, disatu sisi terdapat bagian yang
dilestarikan dan sisi lain ada bagian dikritisi atau diserang bahkan mungkin
ada bagian yang ditolak. Didunia Islampun muncul pelestari warisan Yunani,
Persia dan Romawi, namun juga banyak yang melakukan kritik terhadapnya.
Disinilah tampak dinamika intelektual. Konsep Ide Plato terus dipelajari dan
dikembangkan, begitu juga konsep Akal dan Logika Aristoteles serta konsep Emanasi
Plotinus. Semunya tetap dijadikan pijakan. Ini membuktikan bahwa ketiga filusuf
tersebut yang nota bene merupakan para pionir memiliki pengaruh yang sangat
besar dalam membentuk pola pikir para filusuf generasi berikutnya tidak
terkecuali Immauel Kant, Filsuf kelahiran Jerman yang abad ke-18.
Menurut
Kant, Filsafat adalah ilmu (Pengetahuan) yang menjadi pangkal dari semua
pengetahuan yang di dalamnya tercakup masalah epistemologi yang menjawab
persoalan apa yang dapat kita ketahui.
John Locke
yang mendominasi filsafat pada abad ke-18, seperti sahabatnya, Newton
yang mendominasi ilmu pada periode yang sama. Awal abad ke-18 adalah masa yang
gemilang. Eropa sembuh dari kekalutan selama dua abad sebelumnya. Ini tentu
sangat berbeda kondisinya dengan tradisi keilmuan dalam Islam pada abad yang
sama.
Menurut
Dr.Harun Hadiwijono, dahulu filsafat mewujudkan suatu pemikiran yang hanya
menjadi hal istimewa beberapa ahli saja, tetapi sekarang orang berpendapat, bahwa
seluruh umat manusia berhak turut menikmati hasil-hasil pemikiran filsafat dan
juga menjadi tugas filsafat untuk membebaskan khalayak ramai dari kuasa gereja
dan iman kepercayaan yang berdasarkan wahyu, agar supaya mereka mendapat bagian
dari hasil-hasil zaman pencerahaan.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
Definisi Filsafat pada Abad ke 18 pada Masa Pencerahan (Aufklarung)?
2. Bagaimana Masa Pencerahan di Tiga
Negara Eropa (Inggris, Prancis dan Jerman)?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Filsafat
pada Abad 18 pada Masa Pencerahan (Aufklarung)
Filsafat
abad ke-18 di Jerman disebut Zaman Aufklarung atau zaman pencerahan yang di
Inggris dikenal dengan Enlightenment, yaitu suatu zaman baru dimana
seorang ahli pikir yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara
rasionalisme dengan empirisme. Zaman ini muncul dimana manusia lahir dalam
keadaan belum dewasa dalam pemikiran filsafatnya. Namun setelah Immanuel Kant
mengadakan penyelidikan dan kritik terhadap peran pengetahuan akal barula
manusia terasa bebas dari otoritas yang datang dari luar manusia demi kemajuan
peradaban manusia.
Menurut
Immanuel Kant zaman pencerahan adalah zaman manusia keluar dari keadaan tidak
akil balik, yang disebabkan karena kesalahan manusia sendri. Kesalahan itu
terletak disini, bahwa manusia tidak mau memanfaatkan akalnya.
Memang ada
perbedaan yang menyolok antara abad ke-17 dan abad ke-18. Abad ke-17 membatasi
diri pada usaha memberikan tafsiran baru terhadap kenyataan bendawi dan rohani,
yaitu kenyataan yang mengenai manusia, dunia dan Allah. Akan tetapi abad ke-18
menganggap dirinya sebagai mendapat tugas untuk meneliti secara kritis (sesuai
denga kaidah-kaidah yang diberikan akal) segala yang ada, baik didalam negara
ataupun didalam masyarakat. Dahulu filsafat mewujudkan suatu pemikiran yang
hanya menjadi hal istemewa beberapa ahli saja, tetapi sekarang orang
berpendapat, bahwa seluruh umat manusia berhak turut menikmati hasil-hasil
pemikiran filsafat.
Pencerahan
berasal dari inggris, hal ini disebabkan karena pada kira-kira menelang akhir
abad ke-17 di inggris berkembanglah suatu tata negara yang liberal. Oleh karena
itu lambat-laun pencerahan tumbuh menjadi keyakinan umum diantara para ahli
pikir. Dari inggris gerakan ini dibawa ke perancis dan dari sana tersebar di
seluruh eropa. Di perancis gerakan ini secara sadar dan terang-terangan
bertentengan dengan keadaaan masyarakat, kenegaraan dan kegerejaan pada waktu
itu. Akhirnya jerman mengikuti jejak prancis itu, akan tetapi disini gerakan
pencerahan berjalan dengan lebih tenang dan serasi, kurang menampakkan pertentangan
antara gereja dan masyarakat.[1]
B. Masa Pencerahan di Tiga Negara Eropa
1.
Pencerahan di inggris
Di inggris filsafat pencerahan dikemukakan oleh ahli-ahli pikir yang
bermacam-macam keyakinannya. Kebanyakan ahli fikir yang seorang lepas dari pada
yang lain, kecuali tentunya beberapa aliran pokok.
Salah satu gejala pencerahan di inggris ialah yang disebut diesme, suatu
aliran dalam filsafat inggris pada abad ke-18, yang menggabungkan diri dengan
gagasan Aduard Herbert dari cherburry (1581-1648), yang dapat disebut pemberi
alas ajaran agama alamiah.
Menurut Herbert, akal mempunya otonomi mutlak di bidang agama, juga agama
kristen ditaklukkan kepada akal. Atas dasar pendapat ini ia menentang segala
kepercayaan yang berdasarkan wahyu. Terhadap segala skeptisisme di bidang agam
ia bermaksud sekuat mungkin meneguhkan kebenaran-kebenaran dasar alamiah dari
agama.
Dasar pengetahuan di bidang agama adalah beberapa pengertian umum yang
pasti bagi semua orang dan secara langsung tampak jelas karena naluri alamiah,
yang mendahului segala pengalaman dalam pemikiran akali. Ukuran kebenaran dan
kepastiaanya adalah persetujuan umum segala manusia, karena kesamaan akalnya.
Inilah asas-asas pertama yang harus dijabarkan oleh akal manusia sehingga
tersusunlah agama alamiah, yang berisi: a) bahwa ada tokoh yang tertinggi. b)
bahwa manusia harus berbakti kepada tokoh yang tertinggi itu. c) bah wa bagian
pokok kebaktian ini adalah kebajikan dan kesalehan. d) bahwa manusia karena
tabiatnya benci terhadap dosa dan keyakinan bahwa tiap pelanggaran kesusilaan
harus disesali. e) bahwa kebaikan dan keadilan Allah memberikan pahala dan
hukuman kepada manusia didalam hidup ini dan di akhirat.
Pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 pandangan herbert ini
diperkembangkan lebih lanjut, baik yang mengenai unsur-unsurnya yang negatif
maupun unsur-usurnya yang positif.[2]
2.
pencerahan di perancis
Pada abad ke-18 filsafat diperancis menimba gagasannya dari inggris. Para
pelopor filsafat di perancis sendiri (Descartes, dll) telah dilupakan dan tidak
dihargai lagi. Sekarang yang menjadi guru mereka adalah locke dan newton
Perbedaan
antara filsafat Perancis dan Inggris pada waktu ini adalah demikian, bahwa Di
Inggris para filsuf kurang berusaha untuk menjadikan hasil pemikiran mereka
dikenal oleh umum, akan tetapi di Perancis keyakinan baru ini sejak semula
diberikan dalam bentuk populer. Akibat perbuatan itu ialah bahwa filsafat di
Perancis dapat ditangkap oleh golongan yang lebih luas , yang tidak begitu terpelajar
seperti para filsuf. Hal ini menjadikan keyakinan baru itu memasuki pandangan
umum. Demikianlah di Perancis filsafat lebih erat dihubungkan dengan hidup
politik, sosial dan kebudayaan pada waktu itu. Karena sifatnya yang populer itu
maka filsafat di Perancis pada waktu itu tidak begitu mendalam. Agama
Kristen diserang secara keras sekali dengan memakai senjata yang
diberikan oleh Deisme.
Sama halnya
dengan di Inggris demikian juga di Perancis terdapat bermacam-macam aliran: ada
golongan Ensiklopedi, yang menyusun ilmu pengetahuan dalam bentuk Ensiklopedi,
dan ada golongan materialis, yang meneruskan asas mekanisme menjadi
materialisme semata-mata.
Diantara
tokoh yang menjadi sentral pembicaraan disini adalah Voltaire (1694-1778), yang
nama samaran dari Francois Marie Arouet.
Pada tahun
1726 ia mengungsi ke Inggris. Di situ ia berkenalan dengan teori-teori Locke
dan Newton. Apa yang telah diterimanya dari kedua tokoh ini ialah: a) sampai di
mana jangkauan akal manusia, dan b) di mana letak batas-batas akal manusia.
Berdasarkan kedua hal itu ia membicarakan soal-soal agama alamiah dan etika.
Maksud tujuannya tidak lain ialah mengusahakan agar hidup kemasyarakatan
zamannya itu sesuai dengan tuntutan akal.
Mengenai
jiwa dikatakan, bahwa kita tidak mempunyai gagasan tentang jiwa (pengaruh
Locke).Yang kita amati hanyalah gejala-gejala psikis. Pengetahuan kita tidak
sampai kepada adanya suatu substansi jiwa yang berdiri sendiri.
Oleh karena
agama dipandang sebagai terbatas kepada beberapa perintah kesusilaan, maka ia
menentang segala dogma, dan menentang agama.
Di Perancis
pada masa pencerahan ini juga ada Jean Jacques Rousseau(1712-1778), yang telah
memberikan penutupan yang sistematis bagi cita-cita pencerahan di Perancis.
Sebenarnya ia menentang Pencerahan, yang menurut dia, menyebarkan kesenian dan
ilmu pengetahuan yang umum, tanpa disertai penilaian yang baik, dengan terlalu
percaya kepada pembaharuan umat manusia melalui pengetahuan dan keadaban.
Sebenarnya Rousseau adalah seorang filsuf yang bukan menekankan kepada akal,
melainkan kepada perasaan dan subjektivitas. Akan tetapi di dalam menghambakan
diri kepada perasaan itu akalnya yang tajam dipergunakan.
Menurut
Rousseau, kebudayaan bertentangan dengan alam, sebab kebudayaan merusak
manusia. (Yang dimaksud ialah kebudayaan yang berlebih-lebihan tanpa
terkendalikan dan yang serba semu, seperti yang tampak di Perancis pada abad
ke-18 itu).
Mengenai
agama Rousseau berpendapat, bahwa agama adalah urusan pribad.. Agama tidak
boleh mengasingkan orang dari hidup bermasyarakat. Kesalahan agama Kristen
ialah bahwa agama ini mematahkan kesatuan masyarakat. Akan tetapi agama memang
diperlukan oleh masyarakat. Akibat keadaan ini ialah, bahwa masyarakat
membebankan kebenaran-kebenaran keagamaan, yang pengakuannva secara lahir
perlu bagi hidup kemasyarakatan, kepada para anggotanya sebagai suatu
undang-undang, yaitu tentang adanya Allah serta penyelenggaraannya terhadap
dunia, tentang penghukuman di akhirat, dsb. Pengakuan secara lahiriah terhadap
agama memang perlu bagi masyarakat, tetapi pengakuan batiniah tidak boleh
dituntut oleh negara.
Pandangan
Rousseau mengenai pendidikan berhubungan erat dengan ajarannya tentang negara
dan masyarakat. Menurut dia, pendidikan bertugas untuk membebaskan anak dari
pengaruh kebudayaan dan untuk memberi kesempatan kepada anak mengembangkan
kebaikannya sendiri yang alamiah. Segala sesuatu yang dapat merugikan
perkembangan anak yang alamiah harus dijauhkan dari pada anak. Di dalam
pendidikan tidak boleh ada pengertian “kekuasaan” yang memberi perintah dan
yang harus ditaati. Anak harus diserahkan kepada dirinya sendiri. Hanya dengan
cara demikian ada jaminan bagi pembentukan yang diinginkan. Juga pendidikan
agama yang secara positif tidak boleh diadakan. Anak harus memilih Sendiri keyakinan
apa yang akan diikutinya.
Sebenarnya
tidak begitu jelas apakah rousseau lebih menginginkan suatu keadaan alamiah
atau hidup bermasyarakat yang ideal.
Dapat
dikatakan bahwa Pencerahan di Perancis
memberikan senjata rohani kepada revolusi Perancis.[3]
3.
Pencerahan di jerman
Pada umumnya
Pencerahan di Jerman tidak begitu bermusuhan sikapnya terhadap agama
Kristen seperti yang terjadi di Perancis. Memang orang juga berusaha menyerang
dasar-dasar iman kepercayaan yang berdasarkan wahyu, serta menggantinya dengan
agama yang berdasarkan perasaan yang bersifat pantheistic, akan tetapi semuanya
itu berjalan tanpa “perang’ terbuka.
Yang menjadi
pusat perhatian di Jerman adalah etika. Orang bercita-cita untuk mengubah
ajaran kesusilaan yang berdasarkan wahyu menjadi suatu kesusilaan yang
berdasarkan kebaikan umum, yang dengan jelas menampakkan perhatian kepada
perasaan. Sejak semula pemikiran filsafat dipengaruhi oleh gerakan rohani di
Inggris dan di Perancis. Hal itu mengakibatkan bahwa filsafat Jerman tidak
berdiri sendiri.
Para
perintisnya di antaranya adalah Samuel Pufendorff(1632-1694), Christian
Thomasius (1655-1728). Akan tetapi pemimpin yang sebenarnya di bidang filsafat
adalah Christian Wolff (1679- 1754).
la
mengusahakan agar filsafat menjadi suatu ilmu pengetahuan yang pasti dan
berguna, dengan mengusahakan adanya pengertian-pengertian yang jelas dengan
bukti-bukti yang kuat. Penting sekali baginya adalah susunan sistim filsafat
yang bersifat didaktis, gagasan-gagasan yang jelas dan penguraian yang tegas.
Dialah yang menciptakan pengistilahan-pengistilahan filsafat dalam bahasa
Jerman dan menjadikan bahasa itu menjadi serasi bagi pemikiran ilmiah. Karena
pekerjaannya itu filsafat menarik perhatian umum.
Pada
dasarnya filsafatnya adalah suatu usaha mensistimatisir pemikiran Leibniz dan
menerapkan pemikiran itu pada segala bidang ilmu pengetahuan. Dalam
bagian-bagian yang kecil memang terdapat penyimpangan-penyimpangan dari
Leibniz.
Hingga
munculnya Kant yang filsafatnya merajai universitas-universitas di Jerman. Orang
yang seolah-olah dengan tiba-tiba menyempurnakan Pencerahan adalah Immanuel
Kant (1724-1804). Yang merupakan Filsuf yang pengaruhnya terhadap filsafat pada
dua ratus tahun terakhir ini,baik di Barat maupun di Timur, hampir secara
universal diakui sebagai filsuf terbesar sejak masa Aristoteles. Ada yang
berpendapat bahwa filsafat pada dua ratus tahun terakhir ini bagaikan catatan
kaki terhadap tulisan-tulisannya. Ada juga yang berpendapat sistem filsafatnya
bagi dunia modern ini laksana Aristoteles bagi dunia skolastik:
Kant lahir
di Koningsbergen, Jerman.Pikiran-pikiran dan tulisan-tulisannya membawa
revolusi yang jauh jangkauannya dalam filsafat modern.ia hidup dizaman
Scepticism Sebagian besar hidupnya telah ia pergunakan untuk mempelajari
logical process of thought (proses penalaran logis),the external world
(dunia eksternal) dan reality of things (realitas segala yang wujud ).
Kehidupannya
dalam dunia filsuf dibagi dalam dua tahap, yaitu tahap pra-kritis dan tahap kritis,
dengan kira-kira tahun 1770 sebagai garis pembatasnya. Pada tahap pra-kritis ia
menganut pendirian rasionalisme yang dilancarkan oleh leibniz dan Wolff. Tetapi
karena terpengaruh oleh empirisme David Hume ( 1711-1776), berangsur-angsur
Kant meninggalkan rasionalisme. Ia sendiri mengatakan bahwa Hume itulah yang
membangunkannya dari tidur dogmatisnya.
Filsafat
kant disebut kritisme, itulah sebabnya tiga karyanya yang besar disebut kritik.
Secara harfiah kata kritik berarti pemisahan. Filsafat kant bermaksud
membeda-bedakan antara pengenalan yang murni dan yang tidak murni, yang tiada
kepastiannya.
Menurut
kant, pemikiran telah mencapai arahnya yang pasti didalam ilmu pengetahuan
pasti-alam, seperti yang telah disusun oleh newton. Llmu pengetahuan pasti-alam
itu telah mengajar kita, bahwa perlu sekali kita terlebih dahulu secara kritis
meneliti pengenalan atau tindakan pengenalan itu sendiri.
Dengan
munculnya Kant dimulailah zaman baru, sebab filsafatnya mengantarkan suatu
gagasan baru yang memberi arah kepada segala pemikiran filsafat la
sendiri memang merasa, bahwa is meneruskan Pencerahan.
Karyanya
yang terkenal dengan menampakkan kritisismenya adalah Critique of Pure Reason
atau kritik atas rasio murni (1781), yang membicarakan tentang reason dan
knowing process yang ditulisnya selama lima belas tahun. Bukunya yang kedua
adalah Critique of Practical Reason atau kritik atas rasio praktis (1788), yang
menjelaskan filsafat moralnya dan bukunya yang ketiga adalah Critique of
judgment atau kritik atas daya pertimbangan (1790).
Kant yang
juga dikenal sebagai raksasa pemikir Barat mengatakan bahwa, Filsafat merupakan
ilmu pokok dari segala pengetahuan yang meliputi empat persolan yaitu: Apa yang
dapat kita ketahui ? ,Apa yang boleh kita lakukan?,Sampai dimanakah pengharapan
kita? Dan Apakah manusia itu?.[4]
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Di abad
ke-18 dimulai suatu zaman baru yang memang telah berakar pada Renaissance (Masa
yang juga disebut masa keraguan, dirinya dan jiwanya saja diragukan, Yang tidak
di ragukan hanya dirinya yang ragu itu, keraguan yang dimaksud disini adalah
keraguan metafisik ) dan mewujudkan buah pahit dari rasionalisme dan empirisme.
Masa ini disebut dengan masa pencerahan atau Aufklarung yang menurut Immanuel
Kant, di zaman ini manusia terlepas dari keadaan tidak balik yang disebabkan
oleh kesalahan manusia itu sendiri yang tidak memanfaatkan akalnya. Voltaire
menyebut zaman pencerahan sebagai “zaman akal” dimana manusia merasa bebas, zaman
perwalian pemikiran manusia dianggap sudah berakhir, mereka merdeka dari segala
kuasa dari luar dirinya. Para tokoh era Aufklarung ini juga
merancang program-program khusus diantaranya adalah berjuang menentang
dogma gereja dan takhayul populer. Senjatanya adalah fakta-fakta ilmu dan
metode-metode rasional.
Di Jerman
hadir sosok Immanuel Kant yang dalam filsafat kritiknya ia bermaksud memugar
sifat objektivitas dunia ilmu pengetahuan. Agar maksud itu terlaksana, orang
harus menghindarkan diri dari sifat sepihak rasionalisme dan sifat sepihar
empirisme. Rasionalisme mengira telah menemukan kunci bagi pembukaan
realitas pada diri subjeknya, lepas dari pengalaman. Adapun empirisme mengira
telah memperoleh pengetahuan dari pengalaman saja. Kritisisme Kant adalah
suatu usaha besar untuk mendamaikan rasionalisme dengan empirisme.
Menurut Kant
baik rasionalisme maupun empirisme dua-duanya berat sebelah. Ia berusaha
menjelaskan bahwa pengalaman manusia merupakan perpaduan antara sintesa
unsur-unsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori.
Di Inggris
muncul paham deisme sebagai salah satu gejala Pencerahan yang juga disebut
pemberi alas ajaran agama alamiah. Munculnya paham deisme ini sebagai bentuk
penggabungan terhadap gagasan Eduard Herbert.
B. Kritik dan Saran
Demikianlah yang dapat kami paparkan
mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih
banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan
saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan
makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi
penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Hadiwijono, Harun. 1980. Sari sejarah filsafat barat 2.
Yogyakarta:kanisius.
R.Ravertz,Jerome. 2004. Filsafat Ilmu. Yogykarta:Pustaka
Pelajar 2004
Mustansyir, Rizal. 2007. Filsafat Analistik. Yogyakarta:pustaka pelajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar