Kamis, 11 Juni 2015

PEMIKIRAN SOEKARNO TERHADAP ISLAM



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sukarno adalah tokoh yang spektakuler, berpengetahuan luas, berani dan revolusionis, setidaknya itulah yang terlihat dari pidato-pidatonya yang berapi-api dan menghipnotis. Berbicara tentang Sukarno adalah berbicara tentang berdirinya Indonesia, karena beliau adalah tokoh sentral dalam sejarah kemerdekaan Indonesia dan salah satu dari The Founding Fathers. Yang menarik dari Sukarno adalah ide-ide politiknya yang brilian, yang muncul dari keluasan pengetahuannya. Sebagai seorang nasionalis sejati, beliau seperti Gajahmada, ingin menyatukan wilayah Nusantara yang beliau sebut sebagai nation staat. Untuk bisa menyatukan wilayah nusantara yang berbeda-beda kultur ini, harus bisa mengakomodir semua perbedaan, bahkan yang bertolak belakang. Agar Republik Indonesia bisa diterima oleh semua pihak, maka beliau meramu sebuah ideologi yang menampung perbedaan-perbedaan itu. Maka munculah istilah Nasionalisme Indonesia, Sosialisme Indonesia, Marhaenisme, dan Pancasila.
Sukarno adalah pemimpin yang multi talenta, selain mumpuni dalam urusan orasi, politik, fashion, beliau juga "jempolan" dalam bertango. Beliau mempunyai apresiasi seni yang tinggi, dan sangat mencintai keindahan, termasuk keindahan dalam kecantikan wanita. Di balik cerita heroiknya, Sukarno tetaplah manusia yang bisa salah. Bagaimanapun pandainya dia membuat konsep sebuah negara – dengan gagasan sosialisme demokratiknya pada praktiknya tak seindah konsep yang ditawarkan. Konsep negara yang ditawarkannya adalah sebuah negara yang tidak ada orang miskin di dalamnya. Negara yang menjanjikan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Akan tetapi,  negara yang ia pimpin hampir bangkrut total di tahun 1965, diikuti oleh berbagai demonstrasi yang berakhir dengan terlepasnya jabatanpresiden.
Makalah ini mencoba mengupas pemikiran-pemikiran beliau dengan memulainya dari riwayat hidup Bung Karno, serta pemikiran keagamaan beliau, yang sedikit atau banyak pasti mempengaruhi pandangan politik beliau.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Riwayat Hidup Soekarno?
2.Bagaimana Pemikiran Soekarno Tentang Agama Islam?



BAB II
PEMBAHASAN
A. Riwayat Hidup Soekarno
Ir. Sukarno dilahirkan dengan nama Koesno Sosrodihardjo di  Surabaya , namun karena sering sakit-sakitan maka namanya diubah oleh ayahnya menjadi Soekarno. Nama tersebut diambil dari nama tokoh pewayangan Adipati Karna.  Sukarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai. Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama Hindu sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama Islam.
Ia bersekolah pertama kali di Tulung Agung hingga akhirnya ia pindah ke Mojokerto, mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota tersebut. Di Mojokerto, ayahnya memasukan Sukarno ke Eerste Inlandse School, sekolah tempat ia bekerja. Kemudian pada Juni 1911 Sukarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima di Hoogere Burger School (HBS). Pada tahun 1915, Sukarno telah menyelesaikan pendidikannya di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS. di Surabaya (Jawa Timur). Ia kemudian tinggal di rumah teman bapaknya HOS Cokroaminoto. Di Surabaya, Sukarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Cokroaminoto saat itu, seperti Alimin, Musso, Dharsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis.
Tamat H.B.S. tahun 1920, Sukarno melanjutkan ke Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil dan tamat pada tahun 1925. Saat di Bandung, Sukarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Cokroaminoto. Di sana ia berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.
Pada bulan Juli 1932, Sukarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Sukarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini ia punya kesempatan memperdalam Islam lewat buku dan surat-suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan. Ia kemudian diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1938 – 1942. Sukarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.
Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, Sukarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Kemerdekaan tersebut diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Di kancah politik internasional Presiden Sukarno mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila. Kebenciannya pada imperialisme berpuncak pada munculnya ide non-alignment movement. Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma) dan Jawaharlal Nehru (India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok.
Sifat beliau yang akomodatif dan ingin merangkul semua pihak, termasuk komunis, membuahkan hasil negatif. Setelah peristiwa GESTAPU keadaan politik Indonesia semakin tidak menentu. Ini adalah turning point dari keruntuhan Sukarno. Pidato  pertanggungjawaban mengenai sikapnya terhadap peristiwa G30S pada Sidang Umum ke-IV MPRS ditolak. Pidato tersebut berjudul "Nawaksara" dan dibacakan pada 22 Juni 1966. Pidato "Pelengkap Nawaskara" pun disampaikan oleh Sukarno pada 10 Januari 1967 namun kemudian ditolak lagi oleh MPRS pada 16 Februari tahun yang sama.
Ia akhirnya meninggal pada hari Minggu, 21 Juni 1970 di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta dengan status sebagai tahanan politik. Pemerintahan Presiden Soeharto memilih Kota Blitar, Jawa Timur, sebagai tempat pemakaman Sukarno. Hal tersebut ditetapkan lewat Keppres RI No. 44 tahun 1970. Jenazah Sukarno dibawa ke Blitar sehari setelah kematiannya dan dimakamkan keesokan harinya bersebelahan dengan makam ibunya.[1]

B. Pemikiran Soekarno Tentang Agama Islam
Seperti yang kita ketahui bersama, Soekarno adalah seorang Muslim. Namun, ternyata Soekarno bukanlah lahir dari keluarga yang kental nuansa Islamnya.Beliau terlahir ditengah keluarga yang tidak terlalu agamis. Ibunya adalah seorang Hindu, dan ayahnya adalah seorang Muslim yang menurut beliau sendiri Islamnya adalah Islam-islaman. Namun sejak kecil orang tuanya menekankan kepercayaan pada Tuhan. Ayahnya mengingatkan agar dia jangan lupa pada Gusti Kang Maha Suci, dan ibunya juga mengingatkan agar dia jangan lupa Sang Hyang Widi. Dari sini kita bisa menilai bahwa pengetahuan agama yang diberikan orang tuanya tidaklah terlalu mendalam. Namun Sukarno telah bersentuhan dengan tokoh-tokoh Islam yang nampaknya dari merekalah beliau banyak belajar. HOS Cokroaminoto adalah teman ayahnya yang banyak mempengaruhinya. Sukarno adalah anggota Muhammadiyah sampai ajalnya,  dan sering mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan organisasi ini. Mulai dari situ benih Islam modernis pun tertanam dalam dirinya. Beliau juga mengagumi M. Natsir, dan mereka sering berdialog tentang agama, sebelum akhirnya mereka berselisih.
Pemikiran Soekarno tentang Islam berbeda dengan Natsir, Sukarno lebih pada pemerintah yang sekuler sedangkan Natsir lebih pada negara yang bersifat integralistik. Gagasan pemisahan agama yang di ambil sukarno dari negara di Barat (Eropa) yang menyatakan bahwa agama adalah aturan spiritual (akhirat) dan negara adalah aturan duniawi. Ditambahkan oleh soekarno bahwa agama adalah urusan spiritual pribadi, sedangkan masalah negara adalah persoalan dunia dan kemasyarakatan. Berdasarkan hal tersebut, ia menilai bahwa pelaksanaan ajaran agama hendaknya menjadi tanggung jawab setiap pribadi muslim dan bukan negara atau pemerintah. Negara dalam hal ini tidak turut campur untuk mengatur dan memaksakan ajaran-ajaran agama kepada para warga negaranya.
Tapi menurutnya dengan dipisahkannya agama dengan negara bukan berarti ajaran Islam dikesampingkan, sebab dalam negara demokrasi, semua aspirasi termasuk aspirasi keislaman dapat disalurkan melalui parlemen. Umat Islam juga jangan terpaku dengan bentuk formal atau luar ajaran Islam tetapi lebih memperhatikan isi (substansi) atau semangat ajaran Islam. Apabila Indonesia menjadi Negara Islam dan Islam diterima sebagai dasar negara maka akan terjadi perpecahan di Indonesia karena tidak seluruh rakyat Indonesia beragama Islam. Menurut pandangan Soekarno, negara nasional adalah cita-cita rakyat Indonesia. Dalam usaha membangkitkan semangat cinta tanah air harus ditekankan pentingnya persatuan yang menurutnya tidak dapat didasarkan pada sukuisme, agama, atau ras. Persatua bangsa menurut Soekarno (mengutip Ernest Renan) hanya bisa dibangun oleh kehendak untuk bersatu (le desire d’etre ensemble) dan rasa pengabdian kepada tanah air. Persatuan harus mengabaikan kepentingan golongan yang sempit sekalipun berupa kepentingan Islam.[2]
Dalam pandangan Soekarno, untuk membangkitkan kembali dunia Islam yang sedang tertidur lelap ini. Maka tidak ada Cara lain, kecuali membangun para akal, serta memfungsikan kembali akal dan rasio secara perlahan-lahan tapi pasti. Umat islam harus berani melepaskan diri dari kungkungan masa lalu. Mengeluarkan diri dari “penjara taqlid”, dan memberanikan diri untuk menatap masa depan yang serat dengan kopetensi dan kompleksitaskultur dan ilmu penetahuan
Sukarno menguasai sejarah dan sangat berpegang pada semangat keIslaman, tapi tidak pada furuiyah. Sayangnya, beliau memang tidak mengusai bidang fiqh, dan ilmu-ilmu keIslaman yang lain sehingga inilah yang yang membuatnya berbeda dengan kalangan santri. Dia menolak hukum Islam yang kolot, namun dia sendiri sebetulnya belum mengerti hukum Islam itu bagaimana
Sayangnya, untuk mengatakan beliau tidak pantheist pun ternyata bertolak belakang dengan beberapa sikapnya. Seperti pengakuannya bahwa mendatangi makam-makam dan meminta sesuatu adalah adat takhyul, namun secara jujur ia mengatakan bahwa ia melakukannya. Memohon sesuatu kepada selain Allah bukanlah sikap monotheist, kalau bukan polytheist, tentulah pantheist. Meminta sesuatu kepada roh yang sudah meninggal sudah jelas bukan tradisi tauhid, ini adalah tradisi Hindu dan Budha. Mungkin Sukarno punya alasan sendiri kenapa ia memohon di makam-makam. Atau malah ini menunjukkan bahwa beliau tidak begitu punya perhatian terhadap perilaku agamis. Yang beliau anggap penting nampaknya hanyalah spirit dan pemikiran, karena itulah yang dia anggap bisa memajukan bangsa.
Menurut Dahm, sebelum tahun 1934, Sukarno tidaklah demikian yakin menganut agama Islam. Meskipun ia mempunyai simpati yang mendasar terhadap agama, tetapi pengetahuan agamanya hanya sekedar yang dibutuhkan saja, yang terutama diangkatnya dari buku Lothrop Stoddard, "Dunia Baru Islam". Dan ia lebih terangsang dengan "dunia baru" itu daripada dengan "Islam" itu sendiri.[3]












BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah menyelami pemikiran Sukarno tentang bangsa, bentuk negara, dasar negara, dan pemahamannya terhadap agama, kita bisa membuat sebuah kesimpulan bahwa beliau memang seorang negarawan tulen, politikus ulung, singa podium, seniman, nasionalis sejati, yang mempunyai wawasan pengetahuan yang luas dalam banyak hal, karena kesukaannya dalam membaca dan "membaca". Kemampuan seninya ia abadikan dalam bentuk monumen-monumen yang berdiri di berbagai lokasi di Ibu Kota, termasuk Master Piecenya, Monumen Nasional yang menjadi lambang Jakarta. Beliau adalah lambang perlawanan terhadap penjajahan, pembela wong cilik, pembela kaum tertindas, pembela kaum proletar.
Meski dalam sejarah kepemimpinannya beliau dianggap sebagai presiden yang gagal dalam mewujudkan cita-citanya, namun dia sudah memberikan kontribusi yang tak ternilai harganya bagi berdirinya sebuah negara yang diakui oleh masyarakat dunia. Nixon pernah menulis: "Sukarno adalah contoh terbaik yang saya kenal tentang seorang pemimpin revolusioner yang dengan ahlinya mampu menghancurkan suatu sistem, tetapi tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk membangunya kembali". Menurut Nixon, program Sukarno hanya dinilai positif dalam perjuangan membebaskan Indonesia dari kekuasaan kolonial. Lebih dari ini, "kekuasaannya adalah malapetaka bagi rakyat Indonesia". Pendapat Nixon tak sepenuhnya benar, bukan hanya dalam merobek sistem kolonial, tapi dalam membangun kesatuan Indonesia, beliau punya andil yang sangat besar.  Tentu saja Sukarno bukan malaikat yang tidak mempunyai sisi buruk. Sikap keras dan tau mau komprominya tentu tidak disukai banyak orang, kecenderungannya untuk otoriter dan mendikte orang lain juga adalah keburukan manusiawi yang sering muncul dalam pribadi seorang pemimpin.
Kesukaannya terhadap wanita dan sifat cassanova yang menempel padanya adalah hal negatif lain yang mendapat cibiran dari tidak hanya orang Indonesia tapi juga dunia. Media asing menyebutnya sebagai presiden yang tak tahan melihat rok wanita. Namun, menurut pengakuan istri-istri beliau, Sukarno adalah pecinta keindahan, termasuk keindahan yang ada dalam wanita. Mereka tidak menyukai sifat Sukarno ini, tapi mereka menghargai Sukarno sebagai orang yang berani menentang badai demi cintanya. Fatmawati mengatakan, meski Sukarno menyukai banyak wanita, namun dia bukanlah seorang hipokrit. Hartini mengatakan, meski Sukarno adalah pecinta wanita, namun cinta sejatinya sebetulnya hanya pada bangsanya, bukan wanita.
Mencermati kata-kata Hartini di atas, dalam konteks memahami pemikiran dan ideologi campur aduknya yang mengakomodir perbedaan, sebenarnya dapat ditarik benang merah dari semua itu yaitu cintanya terhadap bangsa, kebenciannya terhadap kolonialisme yang menyengsarakan bangsanya, akhirnya menumbuhkan kesadaran dan kebutuhan untuk bersatu melawan imperialism dan kapitalisme. Inilah semangat yang mendasari seluruh pemikiran Sukarno, termasuk pemahamannya terhadap agama.


























DAFTAR PUSTAKA
http://kafeilmu.com
http://news.okezone.com
http://agil-asshofie.blogspot.com/2012/04/pemikiran-soekarno.html



[1]http://pemikiranfilsafatpendidikanislam.blogspot.com/
[2]http://agil-asshofie.blogspot.com/2012/04/pemikiran-soekarno.html   
[3]http://msibki3.blogspot.com/2013/04/pemikiran-sukarno-tentang-islam_18.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar