BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sukarno adalah tokoh yang spektakuler, berpengetahuan
luas, berani dan revolusionis, setidaknya itulah yang terlihat dari
pidato-pidatonya yang berapi-api dan menghipnotis. Berbicara tentang Sukarno
adalah berbicara tentang berdirinya Indonesia, karena beliau adalah tokoh
sentral dalam sejarah kemerdekaan Indonesia dan salah satu dari The Founding
Fathers. Yang menarik dari Sukarno adalah ide-ide politiknya yang brilian, yang
muncul dari keluasan pengetahuannya. Sebagai seorang nasionalis sejati, beliau
seperti Gajahmada, ingin menyatukan wilayah Nusantara yang beliau sebut sebagai
nation staat. Untuk bisa menyatukan wilayah nusantara yang berbeda-beda kultur
ini, harus bisa mengakomodir semua perbedaan, bahkan yang bertolak belakang.
Agar Republik Indonesia bisa diterima oleh semua pihak, maka beliau meramu
sebuah ideologi yang menampung perbedaan-perbedaan itu. Maka munculah istilah
Nasionalisme Indonesia, Sosialisme Indonesia, Marhaenisme, dan Pancasila.
Sukarno adalah pemimpin yang multi talenta, selain
mumpuni dalam urusan orasi, politik, fashion, beliau juga "jempolan"
dalam bertango. Beliau mempunyai apresiasi seni yang tinggi, dan sangat
mencintai keindahan, termasuk keindahan dalam kecantikan wanita. Di balik
cerita heroiknya, Sukarno tetaplah manusia yang bisa salah. Bagaimanapun
pandainya dia membuat konsep sebuah negara – dengan gagasan sosialisme
demokratiknya pada praktiknya tak seindah konsep yang ditawarkan. Konsep negara
yang ditawarkannya adalah sebuah negara yang tidak ada orang miskin di
dalamnya. Negara yang menjanjikan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Akan
tetapi, negara yang ia pimpin hampir
bangkrut total di tahun 1965, diikuti oleh berbagai demonstrasi yang berakhir
dengan terlepasnya jabatanpresiden.
Makalah ini mencoba mengupas pemikiran-pemikiran
beliau dengan memulainya dari riwayat hidup Bung Karno, serta pemikiran
keagamaan beliau, yang sedikit atau banyak pasti mempengaruhi pandangan politik
beliau.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Riwayat Hidup Soekarno?
2.Bagaimana Pemikiran Soekarno Tentang Agama Islam?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Riwayat Hidup
Soekarno
Ir. Sukarno dilahirkan dengan nama Koesno
Sosrodihardjo di Surabaya , namun karena sering sakit-sakitan maka
namanya diubah oleh ayahnya menjadi Soekarno. Nama tersebut diambil dari nama
tokoh pewayangan Adipati Karna. Sukarno dilahirkan dengan seorang ayah
yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai.
Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama Hindu sedangkan
Raden Soekemi sendiri beragama Islam.
Ia bersekolah pertama kali di Tulung Agung hingga
akhirnya ia pindah ke Mojokerto, mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota
tersebut. Di Mojokerto, ayahnya memasukan Sukarno ke Eerste Inlandse School,
sekolah tempat ia bekerja. Kemudian pada Juni 1911 Sukarno dipindahkan ke
Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima di Hoogere Burger
School (HBS). Pada tahun 1915, Sukarno telah menyelesaikan pendidikannya di ELS
dan berhasil melanjutkan ke HBS. di Surabaya (Jawa Timur). Ia kemudian tinggal
di rumah teman bapaknya HOS Cokroaminoto. Di Surabaya, Sukarno banyak bertemu
dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Cokroaminoto saat
itu, seperti Alimin, Musso, Dharsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis.
Tamat H.B.S. tahun 1920, Sukarno melanjutkan ke
Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan
teknik sipil dan tamat pada tahun 1925. Saat di Bandung, Sukarno tinggal di
kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib
Cokroaminoto. Di sana ia berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto
Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi
National Indische Partij.
Pada bulan Juli 1932, Sukarno bergabung dengan Partai
Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Sukarno kembali
ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini ia punya
kesempatan memperdalam Islam lewat buku dan surat-suratnya kepada seorang Guru
Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan. Ia kemudian diasingkan ke Bengkulu pada
tahun 1938 – 1942. Sukarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada
tahun 1942.
Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, Sukarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Kemerdekaan tersebut diproklamasikan
tanggal 17 Agustus 1945. Di kancah politik internasional Presiden Sukarno
mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila.
Kebenciannya pada imperialisme berpuncak pada munculnya ide non-alignment
movement. Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser
(Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma) dan Jawaharlal Nehru
(India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok.
Sifat beliau yang akomodatif dan ingin merangkul semua
pihak, termasuk komunis, membuahkan hasil negatif. Setelah peristiwa GESTAPU
keadaan politik Indonesia semakin tidak menentu. Ini adalah turning point dari
keruntuhan Sukarno. Pidato pertanggungjawaban mengenai sikapnya terhadap
peristiwa G30S pada Sidang Umum ke-IV MPRS ditolak. Pidato tersebut berjudul
"Nawaksara" dan dibacakan pada 22 Juni 1966. Pidato "Pelengkap
Nawaskara" pun disampaikan oleh Sukarno pada 10 Januari 1967 namun
kemudian ditolak lagi oleh MPRS pada 16 Februari tahun yang sama.
Ia akhirnya meninggal pada hari Minggu, 21 Juni 1970
di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta dengan
status sebagai tahanan politik. Pemerintahan Presiden Soeharto memilih Kota
Blitar, Jawa Timur, sebagai tempat pemakaman Sukarno. Hal tersebut ditetapkan
lewat Keppres RI No. 44 tahun 1970. Jenazah Sukarno dibawa ke Blitar sehari
setelah kematiannya dan dimakamkan keesokan harinya bersebelahan dengan makam
ibunya.[1]
B. Pemikiran Soekarno
Tentang Agama Islam
Seperti yang kita ketahui bersama, Soekarno adalah seorang Muslim. Namun,
ternyata Soekarno bukanlah lahir dari keluarga yang kental nuansa Islamnya.Beliau terlahir ditengah keluarga yang tidak terlalu agamis. Ibunya adalah
seorang Hindu, dan ayahnya adalah seorang Muslim yang menurut beliau sendiri
Islamnya adalah Islam-islaman. Namun sejak kecil orang tuanya menekankan
kepercayaan pada Tuhan. Ayahnya mengingatkan agar dia jangan lupa pada Gusti
Kang Maha Suci, dan ibunya juga mengingatkan agar dia jangan lupa Sang Hyang
Widi. Dari sini kita bisa menilai bahwa pengetahuan agama yang diberikan orang
tuanya tidaklah terlalu mendalam. Namun Sukarno telah bersentuhan dengan
tokoh-tokoh Islam yang nampaknya dari merekalah beliau banyak belajar. HOS
Cokroaminoto adalah teman ayahnya yang banyak mempengaruhinya. Sukarno adalah
anggota Muhammadiyah sampai ajalnya, dan sering mengikuti
pengajian-pengajian yang diadakan organisasi ini. Mulai dari situ benih Islam
modernis pun tertanam dalam dirinya. Beliau juga mengagumi M. Natsir, dan
mereka sering berdialog tentang agama, sebelum akhirnya mereka berselisih.
Pemikiran Soekarno tentang Islam berbeda dengan Natsir, Sukarno lebih pada
pemerintah yang sekuler sedangkan Natsir lebih pada negara yang bersifat
integralistik. Gagasan pemisahan agama yang di ambil sukarno dari negara di
Barat (Eropa) yang menyatakan bahwa agama adalah aturan spiritual (akhirat) dan
negara adalah aturan duniawi. Ditambahkan oleh soekarno bahwa agama adalah
urusan spiritual pribadi, sedangkan masalah negara adalah persoalan dunia dan
kemasyarakatan. Berdasarkan hal tersebut, ia menilai bahwa pelaksanaan ajaran
agama hendaknya menjadi tanggung jawab setiap pribadi muslim dan bukan negara
atau pemerintah. Negara dalam hal ini tidak turut campur untuk mengatur dan
memaksakan ajaran-ajaran agama kepada para warga negaranya.
Tapi menurutnya dengan dipisahkannya agama dengan negara bukan berarti ajaran
Islam dikesampingkan, sebab dalam negara demokrasi, semua aspirasi termasuk
aspirasi keislaman dapat disalurkan melalui parlemen. Umat Islam juga jangan
terpaku dengan bentuk formal atau luar ajaran Islam tetapi lebih memperhatikan
isi (substansi) atau semangat ajaran Islam. Apabila Indonesia menjadi Negara
Islam dan Islam diterima sebagai dasar negara maka akan terjadi perpecahan di
Indonesia karena tidak seluruh rakyat Indonesia beragama Islam. Menurut
pandangan Soekarno, negara nasional adalah cita-cita rakyat Indonesia. Dalam
usaha membangkitkan semangat cinta tanah air harus ditekankan pentingnya
persatuan yang menurutnya tidak dapat didasarkan pada sukuisme, agama, atau
ras. Persatua bangsa menurut Soekarno (mengutip Ernest Renan) hanya bisa dibangun
oleh kehendak untuk bersatu (le desire d’etre ensemble) dan rasa pengabdian
kepada tanah air. Persatuan harus mengabaikan kepentingan golongan yang sempit
sekalipun berupa kepentingan Islam.[2]
Dalam pandangan Soekarno, untuk membangkitkan kembali dunia Islam yang
sedang tertidur lelap ini. Maka tidak ada Cara lain, kecuali membangun para
akal, serta memfungsikan kembali akal dan rasio secara perlahan-lahan tapi
pasti. Umat islam harus berani melepaskan diri dari kungkungan masa lalu.
Mengeluarkan diri dari “penjara taqlid”, dan memberanikan diri untuk menatap
masa depan yang serat dengan kopetensi dan kompleksitaskultur dan ilmu
penetahuan
Sukarno menguasai sejarah dan sangat berpegang pada
semangat keIslaman, tapi tidak pada furuiyah. Sayangnya, beliau memang tidak
mengusai bidang fiqh, dan ilmu-ilmu keIslaman yang lain sehingga inilah yang
yang membuatnya berbeda dengan kalangan santri. Dia menolak hukum Islam yang
kolot, namun dia sendiri sebetulnya belum mengerti hukum Islam itu bagaimana
Sayangnya, untuk mengatakan beliau tidak pantheist pun
ternyata bertolak belakang dengan beberapa sikapnya. Seperti pengakuannya bahwa
mendatangi makam-makam dan meminta sesuatu adalah adat takhyul, namun secara
jujur ia mengatakan bahwa ia melakukannya. Memohon sesuatu kepada selain Allah
bukanlah sikap monotheist, kalau bukan polytheist, tentulah pantheist. Meminta
sesuatu kepada roh yang sudah meninggal sudah jelas bukan tradisi tauhid, ini
adalah tradisi Hindu dan Budha. Mungkin Sukarno punya alasan sendiri kenapa ia
memohon di makam-makam. Atau malah ini menunjukkan bahwa beliau tidak begitu
punya perhatian terhadap perilaku agamis. Yang beliau anggap penting nampaknya
hanyalah spirit dan pemikiran, karena itulah yang dia anggap bisa memajukan
bangsa.
Menurut Dahm, sebelum tahun 1934, Sukarno tidaklah
demikian yakin menganut agama Islam. Meskipun ia mempunyai simpati yang
mendasar terhadap agama, tetapi pengetahuan agamanya hanya sekedar yang
dibutuhkan saja, yang terutama diangkatnya dari buku Lothrop Stoddard, "Dunia
Baru Islam". Dan ia lebih terangsang dengan "dunia baru" itu
daripada dengan "Islam" itu sendiri.[3]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah menyelami pemikiran Sukarno tentang bangsa,
bentuk negara, dasar negara, dan pemahamannya terhadap agama, kita bisa membuat
sebuah kesimpulan bahwa beliau memang seorang negarawan tulen, politikus ulung,
singa podium, seniman, nasionalis sejati, yang mempunyai wawasan pengetahuan
yang luas dalam banyak hal, karena kesukaannya dalam membaca dan "membaca".
Kemampuan seninya ia abadikan dalam bentuk monumen-monumen yang berdiri di
berbagai lokasi di Ibu Kota, termasuk Master Piecenya, Monumen Nasional yang
menjadi lambang Jakarta. Beliau adalah lambang perlawanan terhadap penjajahan,
pembela wong cilik, pembela kaum tertindas, pembela kaum proletar.
Meski dalam sejarah kepemimpinannya beliau dianggap
sebagai presiden yang gagal dalam mewujudkan cita-citanya, namun dia sudah
memberikan kontribusi yang tak ternilai harganya bagi berdirinya sebuah negara
yang diakui oleh masyarakat dunia. Nixon pernah menulis: "Sukarno adalah
contoh terbaik yang saya kenal tentang seorang pemimpin revolusioner yang
dengan ahlinya mampu menghancurkan suatu sistem, tetapi tidak dapat memusatkan
perhatiannya untuk membangunya kembali". Menurut Nixon, program Sukarno
hanya dinilai positif dalam perjuangan membebaskan Indonesia dari kekuasaan
kolonial. Lebih dari ini, "kekuasaannya adalah malapetaka bagi rakyat
Indonesia". Pendapat Nixon tak sepenuhnya benar, bukan hanya dalam merobek
sistem kolonial, tapi dalam membangun kesatuan Indonesia, beliau punya andil
yang sangat besar. Tentu saja Sukarno bukan malaikat yang tidak mempunyai
sisi buruk. Sikap keras dan tau mau komprominya tentu tidak disukai banyak
orang, kecenderungannya untuk otoriter dan mendikte orang lain juga adalah
keburukan manusiawi yang sering muncul dalam pribadi seorang pemimpin.
Kesukaannya terhadap wanita dan sifat cassanova yang
menempel padanya adalah hal negatif lain yang mendapat cibiran dari tidak hanya
orang Indonesia tapi juga dunia. Media asing menyebutnya sebagai presiden yang
tak tahan melihat rok wanita. Namun, menurut pengakuan istri-istri beliau,
Sukarno adalah pecinta keindahan, termasuk keindahan yang ada dalam wanita.
Mereka tidak menyukai sifat Sukarno ini, tapi mereka menghargai Sukarno sebagai
orang yang berani menentang badai demi cintanya. Fatmawati mengatakan, meski
Sukarno menyukai banyak wanita, namun dia bukanlah seorang hipokrit. Hartini
mengatakan, meski Sukarno adalah pecinta wanita, namun cinta sejatinya
sebetulnya hanya pada bangsanya, bukan wanita.
Mencermati kata-kata Hartini di atas, dalam konteks
memahami pemikiran dan ideologi campur aduknya yang mengakomodir perbedaan,
sebenarnya dapat ditarik benang merah dari semua itu yaitu cintanya terhadap
bangsa, kebenciannya terhadap kolonialisme yang menyengsarakan bangsanya,
akhirnya menumbuhkan kesadaran dan kebutuhan untuk bersatu melawan imperialism
dan kapitalisme. Inilah semangat yang mendasari seluruh pemikiran Sukarno,
termasuk pemahamannya terhadap agama.
DAFTAR PUSTAKA
http://kafeilmu.com
http://news.okezone.com
http://agil-asshofie.blogspot.com/2012/04/pemikiran-soekarno.html
http://news.okezone.com
http://agil-asshofie.blogspot.com/2012/04/pemikiran-soekarno.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar